9 Adab Memberi Nama Untuk Anak

Setiap orangtua memiliki kewajiban untuk memberikan nama kepada putra putrinya yang baru lahir.

Setiap muslim perlu mengetahui adab-adab dalam memilih nama, panggilan atau julukan untuk anaknya.

Memberi nama yang baik merupakan kebaikan orang tua yang diberikan kepada anak.

Adab Memilih Nama Untuk Anak

Bayi Perempuan

Nama memilik arti yang sangat penting bagi seseorang, sehingga sebaiknya kita memperhatikan beberapa adab yang berkaitan dengan memberi nama.

Berikut ini beberapa adab dalam memberikan nama kepada anak:

1. Memilih Nama yang Baik

Ketika memberikan nama kepada putra putri kita, sebaiknya kita memperhatikan nama yang dipilih itu.

Apakah nama yang akan diberikan kepada anak merupakan nama yang baik, dari segi lafaz dan maknya.

Nama yang sulit diucapkan bagi masyrakat setempat, hendaknya dihindari.

Demikian juga nama yang memiliki makna yang buruk, wajib ditinggalkan dan tidak boleh menamai anak dengannya.

Nama-nama yang baik seperti Muhammad, Ahmad, Mahmud, Abdurrahim, Fatimah, Zainab dan lain-lain.

Mendapat nama yang baik merupakan salah satu hak anak terhadap orang tua.

Seorang ayah dan ibu, hendaknya tidak memberikan nama yang bisa menjadi aib bagi anak, seperti memberikan nama yang jelek dan buruk.

Terkait dengan nama yang jelek dan buruk, kami telah mengumpulkannya di artikel nama anak yang tidak baik

2. Memberi nama pada usia tujuh hari

Orang tua dari anak yang lahir memilih nama yang baik untuk anaknya seperti yang telah dijelaskan di atas.

Dianjurkan bagi orang tua agar ia memberikan nama kepada anaknya pada hari ke tujuh dari kelahirannya.

Hal itu agar mereka bisa memilih nama yang bagus dan maknanya baik.

Rasulullah bersabda:

كُلُّ غُلَامٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ ، وَيُسَمَّى

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”

Hadits ini menjelaskan bahwa pemberian nama kepada anak hendaknya dilakukan pada hari ke tujuh dari kelahirannya, tepat pada saat ia diaqiqah.

3. Memilih nama yang Islami

Orang tua wajib memberikan nama untuk anaknya dengan nama yang islami yang menunjukkan identits keislamannya.

Menamai anak dengan nama orang-orang kafir tidak dibolehkan dalam islam.

Beberapa orang ada yang menamai anaknya dengan nama Simon, Khauri, nama-nama dewa Mesir kuno seperti Isi, Osiris, Hasbust, dan lainnya.

Memilih nama yang islami adalah wajib bagi orang tua. Bila tidak bisa membedakan nama yang islami dengan nama-nama orang kafir, maka hendaknya bertanya kepada yang faham.

4. Memilih Nama yang Tidak Dilarang

Orang tua wajib memilih nama yang tidak dilarang dalam islam.

Ada banyak nama yang dilarang untuk diberikan kepada anak.

Rasulullah bersabda:

“Jiak umurku panjang aku akan mlarang seseorang dinamai dengan nama Rabaah (arak), Najiih (yang sabar), Aflah (yang beruntung), Nafi’ (yang bermanfaat), dan Yasaar (kemudahan).”

Rasulullah telah menjelaskan sebab terlarangnya nama-nama tersebut dengan sabda beliau;

“…sebab jika kau bertanya, ‘Apakah di sana ada Yasaar (kemudahan)?’ dan ternyata memang tidak ada maka dia akan menjawab, ‘Tidak ada yasaar (kemudahan).”

Termasuk juga nama yang dilarang adalah nama-nama yang mengandung makna kesombongan, keangkuhan, dan penentangan terhadap Allah.

Rasulullah bersabda:

“Nama terjelek di sisi Allah adalah seorang yang diberi nama maalikal Amlaak (raja diraja). Sesungguhnya tiada penguasa kecuali hanya Allah.”

Beberapa contoh nama lain yang dilarang, yaitu Syaahin Syaah (raja diraja), Qadhil Qudhaat (hakimnya para hakim), atau yang bernama Fir’aun, Namrud, dan lainnya.

5. Tidak Memilih Nama yang Buruk

Nama yang buruk tidak seharusnya diberikan kepada anak karena hal itu juga akan memberikan pengaruh buruk kepada anak.

Nama yang buruk bisa menjadi doa yang tidak baik untuk anak atau bisa menjadi aib untuk anak.

Diantara contoh nama yang buruk ialah Kalb (anjing), Kilab (anjing-anjing), Jumrah (kerikil), dan yang lainnya.

Sebagian orangtua, ada juga yang menamai anaknya dengan Hayawan (hewan), Ghuraab (burung gagak), dan lainnya.

Dalam islam, penggunakan nama-nama buruk seperti ini harus dihindari.

Bahkan menggunakan nama yang buruk yang bermakna tidak baik, bisa jadi menjadi sebab munculnya kesulitan dalam hidup anak tersebut.

Termasuk juga gelar-gelar yang tidak islami, semestinya dijauhi dan tidak digunakan.

Baik yang mengandung makna yang buruk dan hina, yang menunjukkan kesombongan dan lainnya.

6. Menukar nama yang buruk dengan nama yang baik

Salah petunjuk dalam pemberian nama adalah mengganti nama yang buruk dengan nama yang baik menurut islam.

Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam telah mengganti beberapa nama dari sahabat dengan nama yang lebih baik.

Dan Rasulullah setipa kali mendengar nama yang tidak baik, beliau menukarnya dengan nama yang baik.

Beliau pernah mengganti nama Barrah dan bersabda:

سَمُّوْها زينب

“Berilah ia nama Zainab”

Beliau juga oernah mengganti nama ‘Ashiyah (wanita yang durhaka) dan bersabda:

أَنْتِ جَمِيْلَةٌ

“Namamu Jamilah (wanita yang cantik)

Beliau menukar setiap nama buruk yang mengandung celaan, airb, dan cacian.

Bahkan beliau juga mengganti nama yang mengandung pujian, sebagaimana beliau menukar nama Barrah (wanita yang selalu berbuat baik) dengan nama Zainab.

Nama-nama yang mengandung pujian pada diri sendiri hendaknya diganti dengan nama yang lebih baik.

Rasulullah banyak mengganti nama para sahabat dengan alasan ini.

7. Tidak menggabungkan Nama Muhammad dan Julukannya, Abul Qasim

Nabi Shallallahu alihi wa sallam bersaba:

تَسَمَّوْا بِاسْمِيْ وَلَا تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِيْ

“Pakailah namaku dan jangan pakai julukanku”

Beliau juga pernah melarang menggabungkan antara nama dan julukan beliau, yakni dengan memberi nama Muhammad Abul Qasim.

Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan penggunaan nama ini berlaku selama Beliau masih hidup.

Adapun setelah wafatnya beliau, maka tidak mengapa menggunakan nama tersebut.

Namun, pendapat ulama yang lebih kuat tidak menggabungkan nama dan julukan beliau serta akan lebih baik jika tidak menggunakan julukan Abul Qasim.

Alasan pendapat ini, karena Rasulullah bersabda:

تَسَمَّوْا بِاسْمِيْ وَلَا تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِيْ، فَإنّمَا أَنَا قَاسِمٌ أَقْسَمُ بَيْنَكُمْ

“Pakaiah namaku dan jangan pakai julukanku. Sesungguhnya aku adalah seorang pembagi yang membagi-bagikan diantara kalian.”

8. Memberikan Julukan kepada Anak kecil dan seorang yang belum punya anak

Boleh memberikan julukan kepada anak yang masih kecil dan seseorang yang belum punya anak.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah memberi julukan kepada saudara Anas yang pada saat itu masih kecil.

Rasulullah bersabda:

“”Hai Abu Umair (saudara Anas), Apa yang telah dilakukan Nughair (burung kecil)?”

Beliua memberi julukan kepada ‘Aisyah dengan keponakannya Abdullah anak kakaknya. Beliau bersabda: “Julukanmu Ummu Abdillah”

9. Memanggil seseorang dengan sebutan yang ia benci

Seseorang tidak boleh memanggil orang lain dengan panggilan atau sebutan yang ia benci.

Memanggil seseorang dengan panggilan yang ia benci bisa menimbulkan kebencian dan permusuhan, dan hal itu harus dihindari.

Terlebih lagi bila sebutan atau panggilan itu menunjukkan air pada seseorang.

Kesimpulan

Seorang muslim hendaknya memperhatiakn adab-adab dalam memberikan nama kepada putra putrinya.

Memberikan nama kepada anak hendaknya tidak sembarangan.

Dengan memperhatikan adab-adab ini, diharap seorang muslim bisa memberikan nama yang sesuai dan baik kepada putra putrinya.

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita sebagai orang tua yang mendidik anaknya dengan baik.

Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholeh yang selalu berbakti kepada orangtuanya dan agamanya. Amin

Baca Juga:
500 Nama Anak Laki Laki islami
450 Nama Bayi Perempuan

Tulis Komentar Anda