23 Adab Membaca Al-Qur’an

Adab Membaca Al-Qur’an – Al-Qur’an adalah kalam Allah secara hakiki yang diturunkan melalui Malaikat Jibril yang terpercaya kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Membaca Al-Qur’an adalah kewajiban bagi setipa muslim dan muslimah.

Setipa muslim yang membaca Al-Qur’an akan mendapatkan pahala sesuai dengan jumlah huruf yang ia baca.

Adab Membaca Al-Qur’an

Ketika membaca Al-Qur’an, seseorang hendaknya memperhatikan beberapa adab agar ia mendapat berkah dari bacaannya dan meraih pahala yang sempurna.

Berikut ini beberapa adab membaca Al-Qur’an:

1. Niat yang benar

Ada ketika membaca Al-Quran

Setiap muslim yang hendak membaca Al-Qur’an mesti memperhatikan niatnya.

Niat yang benar maksudnya ikhlas karena Allah semata, bukan untuk mendapatkan sesuatu yang lain.

Segala sesuatu yang dikerjakan bukan karena ikhlas semata-mata mengharapkan ridho Allah, maka hal itu tidak diterima.

Allah Ta’ala berfirman:

(QS. Al-Bayyinah : 5)

Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا ، وَابْتَغِيْ بِهِ وَجْهِهِ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menerima suatu amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan semata-mata mengharapkan wajah-Nya” (HR. AN-Nasa’i)

Maka dari itu, seseorang yang membaca AL-Qur’an hendaknya meluruskan niatnya, ikhlas karena Allah.

Membaca Al-Qur’an karena mengharapkan ridho Allah, bukan karena riya’ atau sum’ah.

Demikian pula hendaknya meniatkan membaca Al-Qur’an dan mentadabburi Al-Qur’an karena mengikuti Kitab Allah, mengamalkan dan menjaganya.

2. Mengharapkan Pahala

Seseorang yang membaca Al-Qur’an hendaknya mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala dari apa yang dibacanya.

Dan tidak boleh mengharapkan balasan selain dari Allah Ta’ala, baik itu dalam bentuk pujian dari orang lain dan lain-lain.

Allah Ta’ala telah menjanjikan pahala bagi orang yang membaca Al-Qur’an dengan ikhlas melalui lisan Nabinya.

Rasulullah bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، لَا أَقُوْلُ : الم حَرْفٌ ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ ، وَلَامٌ حَرْفٌ ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan Alif lam miim satu huruf, tapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf”

3. Membaca Al-Qur’an dalam keadaan Suci

Bersuci sebelum membaca Al-Qur’an akan mendatangkan pahala yang lebih besar.

Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci akan mendapatkan pahala yang lebih sempurna.

Namun seseorang boleh membaca Al-Qur’an meskipun ia belum berwudhu, jika ia membacanya dengan hafalan.

Adapun jika ia membaca Al-Qur’an dari mushaf, maka hendaknya ia memperhatikan adab yang berikut.

4. Bersuci ketika hendak menyentuh Mushaf Al-Qur’an

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَمَسُّ القُرْآنَ إِلّا طَاهِرٌ

“Janganlah menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam keadaan bersuci”

Ada perbedaan pendapat mengenai hukum menyentuh Al-Qur’an (Mushaf) tanpa berwudhu.

Sebagian berpendapat bahwa wajib berwudhu sebelum menyentuhnya.

Sebagian yang lain berpendapat bahwa tidak diwajibkan berwudhu untuk menyentuh mushaf.

Untuk kehati-hatian, hendaknya berwudhu sebelum menyentuh Al-Qur’an.

Berwudhu sebelum menyentuh dan membaca Al-Qur’an tentu jauh lebih utama daripada tidak berwudhu.

5. Menghadap Kiblat

Sebagian Ahli ilmu, seperti An-Nawawi dan yang lainnya menyebutkan bahwa hendaknya menghadap kiblat ketika membaca Al-Qur’an.

Membaca Al-Qur’an tanpa menghadap kiblat juga tidak masalah dan hal itu tidak menimbulkan dosa.

Namun, menghadap kiblat lebih utama dan lebih mendorong untuk khusyu’ dalam membaca Al-Qur’an.

6. Membaca AL-Qur’an dengan duduk

Duduk ketika membaca Al-Qur’an dimaksudkan untuk lebih menghormati Kitabullah dan mengagungkan syi’arnya.

Bila seseorang membaca Al-Qur’an dengan berdiri atau sambil berjalan, hal itu juga dibolehkan.

Tidak ada larangan membaca Al-Qur’an dalam keadaan berdiri dan berjalan.

Hal itu karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam senantiasa berdzikir dalam berbagai keadaan.

Dan membaca Al-Qur’an juga merupakan bagian dari dzikir kepada Allah Ta’ala.

7. Bersiwak

Perintah bersiwak sebelum membaca Al-Qur’an bukanlah kewajiban, namun merupakan anjuran.

Hal itu bertujuan untuk mengharumkan bau mulut yang keluar ketika membaca firman-firman Allah Ta’ala.

Rasulullah bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian melakukan sholat malam, maka bersiwaklah. Sesungguhnya apabila salah seorang dari kalian membaca dalam sholatnya, maka Malaikat meletakkan mulutnya pada mulut orang tersebut. Tidaklah keluar sesuatu (bacaan Al-Qur’an) dari mulutnya, melainkan akan masuk ke mulut Malaikat”

Dalam hadits ini, Rasulullah menjelaskan keutamaan sholat malam dan bacaan Al-Qur’an di dalamnya.

Setiap muslim hendaknya menjaga perkara ini semampunya karena besarnya keutamaannya.

8. Membaca Al-Qur’an secara Tartil

Membaca Al-Qur’an secara tartil maksudnya membaca Al-Qur’an secara perlahan-lahan, tidak terburu-buru dalam membaca.

Serta membetulkan lafazh dan huruf-hurufnya, serta menjaga hukum-hukum tilawah.

Allah Ta’ala berfirman:

ورتل القرآن ترتيلا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”

Membaca Al-Qur’an dengan benar ialah menjaga hukum-hukum bacaan dan tilawahnya.

Serta mengucapkan lafazh-lafazh Al-Qur’an dengan benar, menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya.

Semua itu termasuk membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang benar.

9. Membaguskan suara ketika membaca Al-Qur’an

Salah satu adab membaca Al-Qur’an adalah membaguskan suara ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Rasulullah bersabda:

زَيِّنُوْا القُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَوْتَ الحَسَنَ يَزِيْدُ القُرْآنَ حَسَناً

“Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian. Sesungguhnya suara yang bagus menambah bagus Al-Qur’an”

Oleh karena itu, siapa saja yang membaca Al-Qur’an hendaknya membacanya dengan suara yang bagus.

Membaca Al-Qur’an dengan suara yang bagus akan membuat orang yang mendengarnya akan semakin tertarik untuk terus mendengarnya, bahkan termasuk para Malaikat juga.

10. Menampakkan Rasa Sedih dan Khusyu’

Hendaknya seseorang yang membaca AL-Qur’an berusaha untuk khusyu’ dalam membaca Al-Qur’an.

Bahkan dianjurkan juga untuk menampakkan rasa sedih, tertama ketika berhubungan dengan ayat-ayat yang membahas neraka, ancaman dan lainnya.

Menampakkan rasa sedih bukan untuk riya’ dan sum’ah, namun sedih karena khusyu’ dan menghayati ayat-ayat yang dibaca.

Rasulullah bersabda:

أَحْسَنُ النَاسِ قِرَاءَةً الَذِي إِذَا قَرَأَ رَأَيْتَ أَنَّهُ يَخْشَى الله

“Orang yang paling baik bacaan Al-Qur’an-nya adalah yang jika ia membaca, engkau melihatnya takut kepada Allah” (HR. Al-Baihaqi)

11. Menghayati dan Merenungi Maknanya

Adab membaca Al-Qur’an yang selanjutnya adalah menghayati dan merenungi makna dari ayat Al-Qur’an yang dibaca.

Setiap orang yang membaca AL-Qur’an wajib melakukan tadabbur dan tafakkur.

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quraan ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad : 24)

Oleh karena itu, orang yang membaca Al-Qur’an hendaknya mentadabburi bacaannya, karena hal itu merupakan bagian dari perhatian terhadap Kalamullah.

Orang yang mentadabburi ayat-ayat yang dibacanya, ia akan memahami makna dari itu.

Sehingga ia akan mendapatkan faedah dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya dan ia akan lebi mudah dalam mengamalkan Al-Qur’an.

12. Memohon Rahmat dan Meminta Perlindungan Diri

Memohon rahmat dan meminta perlindungan diri kepada Allah Ta’ala termasuk adab tilawah Al-Qur’an.

Disebukan bahwasanya apabila Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam membaca ayat yang berisi ancaman, beliau berlindung darinya.

Apabila membaca ayat yang berisi rahmat, beliau pun memohonnya.

Apabila membaca ayat yang berisi pensucian Allah Ta’ala, maka beliau bertasbih.

Hendaknya orang yang membaca Al-Qur’an memperhatikan hal ini, karena hal itu menunjukkan bahwa ia membacanya dengan tadabbur, khusyu’ dan menghayati Al-Qur’an.

13. Membaca dengan Lisan Disertai Kehadiran Hati

Membaca Al-Qur’an harus dengan lisan dan tidak cukup hanya dengan hati saja.

Membaca Al-Qur’an dengan lisan bisa dengan suara yang pelan atau dengan suara yang keras.

Ketika kita membaca Al-Qur’an (dengan lisan), hendaknya kita menghayati bacaan dengan hati.

Menghadirkan hati ketika membaca Al-Qur’an akan lebih mendorong untuk khusyu’ dan memahami maknanya.

14. Memanjangkan Suara saat Membaca Al-Qur’an

Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam memanjangkan suaranya ketika membaca Al-Qur’an. (HR. Al-Bukhori : 5045, 5056)

Memanjangkan suara akan membantu untuk mentadabburi ayat Al-Qur’an, serta menjauhkan kita dari sifat tergesa-gesa dalam membaca Al-Qur’an.

15. Mengambil sifat pertengahan antara berlebihan dan meremehkan

Berlebihan dalam membaca Al-Qur’an dapat merusak Tadabbur dan keindahan bacaan.

Hendaknya orang yang membaca Al-Qur’an mengambil sikap pertengahan, tidak berlebihan dalam membaca Al-Qur’an.

Baik dari segi jumlah maupun tata caranya, karena dikhawatirkan orang yang berlebihan akan bosan dan berhenti membaca Al-Qur’an.

Sementara orang yang meremehkan dikhawatirkan akan menyepelekan hukum-hukum bacaan dan juga tidak mentadabburi ayat yang dibacanya.

16. Menghatamkan Al-Qur’an paling cepat tiga hari

Orang yang membaca Al-Qur’an, hendaknya tidak menghatamkan (membaca 30 juz) kurang dari tiga hari.

Hal itu merupakan petunjuk dan bimbingan Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam dalam membaca Al-Qur’an.

Hal ini lebih dekat kepada khusyu’, tadabbur, tafakkur dan menunaikan hal-hak tilawah.

Diriwayatkan dari Rasulullah bahwasanya beliau tidak pernah menghatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. (Ibnu Sa’ad dari Aisyah, sebagaimana disebutkan dalam kitab shahiihul jami’ (4866))

17. Menjaga Al-Qur’an dengan selalu membacanya

Menjaga Al-Qur’an merupakan kewajiban bagi setiap muslim, yakni dengan senantiasa menjaga hubungan dengan Allah Ta’ala dan dengan kalamnya, yaitu Al-Qur’an.

Hal itu akan sangat mebantu hafalan dan menjaganya agar tidak lupa.

Rasulullah bersabda:

“Ulang-ulangilah (hafalan) Al-Qur’an. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Al-Qur’an itu lebih cepat hilang dari hati manusia daripada unta yang terlepas dari ikatannya” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Salah satu sifat kita sebagai manusia ialah cepat lupa, diantaranya ialah cepat melupakan AL-Qur’an jika tidak selalu mengulangnya dengan cara membaca dan mengulang-ulang hafalan.

Bahkan seorang muslim boleh iri kepada muslim lainnya yang senantiasa membaca Al-Qur’an dan mengulang hafalannya.

Rasulullah bersabda:

“Tidak ada hasad kecuali kepada dua orang: Orang yang Allah ajarkan kepadanya Al-Qur’an dan ia selalu membacanya pada siang dan malam hari..” (HR. Al-Bukhori)

18. Mengamalkan Al-Qur’an

Pada dasarkan, Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan.

Sehingga mengamalkan Al-Qur’an merupakan adab tilawah yang sangat agung.

Siapa yang membaca Al-Qur’an namun tidak mengamalkannya, berarti ia telah menelantarkan Al-Qur’an.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً

“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan” (QS. Al-Furqon : 30)

Ini merupakan pendapat kedua dalam menafsirkan friman Allah:

يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ

“Mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya” (Al-Baqarah : 121)

Yakni mengamalkan dan mengikuti hukum-hukumnya.

Oleh karena itu, orang yang membaca Al-Qur’an wajib mengamalkannya, menegakkan hukum-hukumnya, menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan apa yang diharamkan.

Orang yang membaca Al-Qur’an dan tidak mengamalkannya, hendaknya merasa takut menyerupai kaum yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal” (Al-Jumu’ah : 5)

Kesimpulan

Demikianlah beberapa adab membaca Al-Quran yang harus diperhatikan setiap kali membacanya.

Keutamaan membaca Al-Qur’an hanya akan diperoleh dengan memperhatikan adab-adab ini.

Terima kasih.

Tulis Komentar Anda